2.1.a.10 Aksi Nyata-Modul 2.1 Pembelajaran berdiferensiasi
Yus Widiantini, S.Pd
CGP Angkatan 3 Kota Kupang
2.1.a.10 AKSI NYATA – MODUL 2.1 PEMBELAJARAN BERDIFERENSIASI
1.1 LATAR BELAKANG
Di dalam kelas pada saat proses pembelajaran, fakta yang ditemukan adalah pendidik dihadapkan dengan situasi dimana setiap murid yang diajarkan memiliki berbagai macam keberagaman yang unik. Karakteristik murid yang bervariasi dan bermacam kekuatan yang dimilikinya serta keterampilan murid yang menarik. Ini merupakan sebuah tantangan bagi setiap pendidik untuk bisa memberikan keputusan dalam menyusun strategi pembelajaran yang berhubungan dengan fakta tersebut serta dengan memperhatikan pembelajaran yang berpihak kepada murid.
Menurut filosofi Ki Hadjar Dewantara, pendidik diibaratkan sebagai seorang petani dan murid-murid adalah benihnya. Petani harus mampu menyediakan wadah atau lahan bagi benih-benih tersebut dan melakukan berbagai cara serta usaha untuk menjaga kelangsungan pertumbuhan dan perkembangan dari benih. Begitulah seorang pendidik dalam pembelajaran harus juga memperhatikan kekuatan kodrat anak yaitu kodrat alam dan kodrat zamannya, karena bagaimanapun pemberlakuan yang diberikan kepada anak harus berpihak pada anak.
Peran dari seorang pendidik juga diutamakan untuk bisa mewujudkan profil pelajar Pancasila yang diharapkan bisa diintegrasikan dengan visi misi sekolah yang berpihak kepada murid. Program-program sekolah terkait dengan pembelajaran yang berpihak kepada murid harus lebih ditingkatkan dan dimaksimalkan guna mewujudkan lingkungan belajar yang menyenangkan, efektif dan optimal.
Berkaitan dengan fakta dan tantangan di atas, pendidik bisa menerapkan sebuah pembelajaran yang disebut dengan pembelajaran berdiferensiasi. Menurut Tomlinson (2000), pembelajaran berdiferensiasi adalah usaha untuk menyesuaikan proses pembelajaran di kelas untuk memenuhi kebutuhan belajar setiap individu. Pembelajaran berdiferensiasi adalah serangkaian keputusan masuk akal (common sense) yang dibuat oleh guru yang berorientasi pada kebutuhan belajar murid. Adapun keputusan tersebut dibuat berkaitan dengan: (1) lingkungan belajar yang "mengundang" murid untuk belajar; (2) tujuan pembelajaran yang didefinisikan secara jelas; (3) penilaian berkelanjutan; (4) merespon kebutuhan belajar murid dan (5) manajemen kelas yang efektif.
Sebelum pelaksanaan pembelajaran berdiferensiasi diterapkan, pendidik harus melakukan beberapa hal diantaranya pemetaan terhadap kebutuhan belajar murid dan menentukan strategi pembelajaran diferensiasi. Untuk melakukan pemetaan kebutuhan belajar murid, pendidik harus memperhatikan tiga aspek kebutuhan belajar murid yaitu kesiapan belajar (readiness), minat dan profil/gaya belajar murid. Selain itu juga perlu untuk menentukan strategi pembelajaran diferensiasi yang akan diterapkan dalam pembelajaran seperti diferensiasi konten, proses dan produk. Setelah semuanya dapat didiagnosa dan ditentukan dengan baik, maka pendidik bisa memenuhi kebutuhan belajar murid melalui pembelajaran berdiferensiasi dan mampu untuk menciptakan lingkungan belajar dengan iklim yang menyenangkan, efektif, kondusif dan pastinya berpihak pada murid.
Berikut ini adalah contoh pemetaan kebutuhan belajar berdasarkan minat, kesiapan kesiapan belajar dan profil belajar peserta didik
https://yuswidianti.blogspot.com/2021/11/widiantini-s.html
Berdasarkan
penjelasan
penjelasan di atas, Saya merasakan ada
perubahan pemikiran yang berkontribusi terhadap pemahaman saya tentang
implementasi/aksi nyata pembelajaran berdiferensiasi dalam ruang kelas maya.
Langkah pertama yang saya lakukan yakni membuat Rencana Pelaksanaan
Pembelajaran (RPP) dalam bentuk daring karena saat ini masih dalam pembatasan
kegiatan masyarakat sehingga pembelajarannya pun masih secara daring. Berikut contoh
RPP pada mata pelajaran matematika kelas IX
https://yuswidianti.blogspot.com/2021/11/rpp-berdiferensiasi.html
2. Menerapkan strategi pembelajaran diferensiasi di kelas sesuai dengan pemetaan kebutuhan belajar siswa
B. TOLOK UKUR
Tercapainya tujuan
pembelajaran berdiferensiasi di kelas dengan beberapa aspek penilaian dari segi
sikap, pengetahuan dan keterampilan
C. LINIMASA TINDAKAN YANG AKAN DILAKUKAN
Adapun rincian dari tindakan aksi nyata yang
dilakukan:
1.
Sosialisasi
kepada rekan sejawat di sekolah
2. Sosialisasi
kepada peserta didik di kelas menggunakan google meet dan melakukan pemetaan
kebutuhan belajar siswa dengan memberikan asesmen berupa posttest melalui
google form
3.
Pelaksanaan
kegiatan pembelajaran berdiferensiasi di kelas
D. DUKUNGAN YANG DIBUTUHKAN
Dalam menerapkan aksi
nyata pembelajaran berdiferensiasi ini dibutuhkan beberapa dukungan dari
berbagai pihak di sekolah terutama siswa sebagai subyek pelaksana kegiatan.
Dukungan lain dari kepala sekolah, rekan sejawat dan sarana prasarana yang ada
di sekolah
1.3
HASIL AKSI NYATA
Adapun hasil aksi nyata
dari kegiatan pembelajaran berdiferensiasi ini adalah
Terlaksananya rencana
pelaksanaan pembelajaran (RPP) berdiferensiasi dengan baik meliputi aspek
sikap, pengetahuan dan keterampilan
1.4
KEGAGALAN
DAN KEBERHASILAN
A.
KEGAGALAN
Aksi nyata yang sudah
dilakukan berjalan dengan baik namun perlu dimaksimalkan lagi karena terkendala
jaringan maka proses pembentukan kelompok secara virtual cukup menyita waktu
dalam pembelajaran. Masih ada peserta didik yang masuk terlambat sehingga
terlambat masuk ke ruang kelompok virtual serta masih terdapat siswa yang masih
pasif karena masih malu-malu untuk mengeluarkan pendapat mereka
B.
KEBERHASILAN
Tercapainya tujuan
pembelajaran yang sudah direncanakan dan meningkatkan rasa percaya diri peserta
didik
1.5
RENCANA PERBAIKAN DI MASA MENDATANG
Menyusun rencana
pelaksanaan pembelajaran dengan memperhatikan alokasi waktu serta ketersediaan
sarana prasarana untuk lebih mendukung proses pembelajaran supaya lebih
menarik, menyenangkan dan berpihak pada siswa
1.6
KESIMPULAN AKSI NYATA
Pembelajaran
berdiferensiasi secara singkat merupakan pembelajaran yang berpihak kepada
peserta didik. Hal ini juga sejalan dengan filosofi Ki Hadjar Dewantara yang
berpandangan bahwa setiap anak itu unik dan berbeda. Oleh sebab itu, guru harus
menuntun mereka sesuai dengan kodratnya. Dengan demikian, pembelajaran
berdiferensiasi merupakan strategi umum yng dapat dikembangkan untuk mencapai
merdeka belajar. Artinya mereka diberikan kemerdekaan untuk bisa menjadi
pribadi yang berkembang sesuai minat, bakat dan profilnya dalam rangka
mewujudkan transformasi pendidikan di Indonesia.
Berdasarkan
aksi nyata yang saya lakukan tentang pembelajaran berdiferensiasi, peserta
didik terlihat sangat antusias mengenal potensi, kekuatan dan kemampuan diri.
Para peserta didik memiliki peluang untuk berpikir cara – cara terbaik mereka
dalam belajar, mereka menjadi lebih sadar akan kekuatan dan kebutuhan , mereka dalam
kompetensi menentukan bayangan titik dan bangun datar hasil rotasi. Di samping
itu, saya menjadi lebih peka terhadap perbedaan – perbedaan individual peserta
didik. Hal ini tentunya menjadi pertimbangan secara berkelanjutan untuk
mendesain pembelajaran yang cocok dengan kesiapan belajar, minat dan profil
belajar peserta didik, atau mungkin melakukan scaffolding, yakni proses
menuntun sampai peserta didik dapat melakukan secara mandiri baik atas banyuan
orang tua di rumah atau guru juga menjadi pertimbangan saya dari aspek
penilaian sebagai bentuk evaluasi dan refleksi kemajuan yang dicapai oleh
peserta didik


Komentar
Posting Komentar